Produksi Rokok 2008 Diproyeksikan Tumbuh 3%

Selasa, 22/04/2008 09:50 WIB
Jakarta - Ismanu Soemiran, Ketua Umum Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) memperkirakan produksi rokok nasional tumbuh 3% menjadi 230 miliar batang pada 2008 dari 224 miliar batang pada 2007. Proyeksi ini didasarkan produksi rokok tahun lalu yang meningkat 6 miliar batang atau 2,7% dari 220 miliar batang pada 2006 menjadi 226 miliar batang pada 2007. Kenaikan produksi rokok tersebut terjadi di tengah beban cukai yang masih menekan industri rokok nasional hingga tahun lalu.

Menurut Ismanu, cukai industri rokok terhadap APBN 2008 diperkirakan juga meningkat, bahkan dapat melampaui target pemerintah. Meski berbagai kampanye global tentang gerakan antirokok terus meluas, ternyata kontribusi industri rokok terhadap penerimaan negara terus membubung. Misalnya, pada 2006 industri rokok mengucurkan Rp 38,4 triliun, pada 2007 sumbangan yang digelontorkan kepada negara lebih deras lagi yakni Rp 43,8 triliun. Bahkan, jumlah itu melebihi target dari pemerintah yang dipatok Rp 42,3 triliun.

Meski ruang gerak industri rokok kian sempit, namun produksi masih meningkat. Padahal, sebelumnya produksi rokok sempat menurun karena produsen terbebani kenaikan cukai beberapa kali. Industri rokok, demikian Ismanu, mulai menggeliat pada 2007 pasca anjloknya produksi karena beban cukai yang naik 3 kali pada 2000. Saat itu produksi mencapai 235 miliar batang dan turun menjadi 189 miliar pada 2003.

Melihat pasar rokok yang makin prospektif, industri rokok diperkirakan menaikkan produksi rokok empat miliar batang menjadi 230 miliar batang pada 2008. "Tahun ini pabrik rokok besar belum melakukan investasi, sedangkan pabrik rokok kecil diperkirakan akan tutup akibat kenaikan tarif cukai," kata Ismanu.

Kendati begitu, potensi peningkatan produksi rokok masih terbuka. "Kenaikan cukai rokok akan mematikan industri rokok skala kecil tapi tidak untuk produsen besar," kata Ikhsan Binarto, analis PT Optima Securitas dalam perbincangan dengan e-Bursa.com.

Pendapat Ikhsan cukup beralasan karena pemain besar memang tetap eksis sekalipun digerogoti beban cukai dan kampanye anti rokok yang semakin meluas. Bahkan perusahaan rokok yang telah go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil meraih laba sekalipun tidak besar.

Berdasarkan data StockWatch, empat emiten rokok di BEI berhasil membukukan laba kumulatif mencapai Rp5,276 triliun pada 2007, meningkat 14,16% dibanding laba kumulatif Rp4,621 triliun pada 2006. Peningkatan laba emiten rokok tersebut ditopang penjualan kumulatif yang tumbuh 6,41% menjadi Rp63,198 triliun dari Rp59,390 triliun.

Dari keempat emiten rokok tersebut, tiga emiten di antaranya meraih laba, dan hanya satu emiten masih merugi. PT Bentoel Internasional Investama (RMBA) mencatat pertumbuhan laba tertinggi yakni 66,94% menjadi Rp242,916 miliar dari sebelumnya Rp145,509 miliar. Peringkat kedua PT Gudang Garam dengan perolehan laba Rp1,443 triliun, tumbuh 43,23% dari Rp1,007 triliun. Posisi ketiga PT HM Sampoerna yang meraih laba Rp3,624 triliun, naik 2,65% dari Rp3,530 triliun. Hanya BAT Indonesia rugi Rp34,218 miliar namun turun 44% dibanding rugi pada 2006 sebesar Rp62,123 miliar.

Ditinjau dari sisi penjualan, Bentoel Investama mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 53% menjadi Rp4,586 triliun dari sebelumnya Rp2,996 triliun. Kenaikan pendapatan itu tidak terlepas dari keberhasilan perseroan menaikkan volume penjualan. Tahun lalu, Bentoel Investama menjual lebih dari 15 miliar batang atau naik sebesar 42% jika dibandingkan volume penjualan pada 2006. Perseroan juga berhasil menekan beban kerugian rokok rusak dari Rp6,92 miliar pada 2006 menjadi Rp6,2 miliar. Pada 2008, perseroan menyiapkan belanja modal sebesar Rp500 miliar untuk membangun pabrik pengolahan tembakau. Belanja modal tersebut juga digunakan perseroan untuk menambah jumlah mesin produksi rokok dan kemasan.

Gudang Garam mencatat penjualan Rp28,158 triliun, meningkat 6,90% menjadi Rp28,158 triliun dibanding sebelumnya Rp26,339 triliun. Dampak penerapan tarif cukai hanya sedikit mempengaruhi penjualan sigaret kretek mesin (SKM). Sementara untuk penjualan sigaret kretek tangan (SKT/rokok kretek yang diproduksi tangan) justru mengalami kenaikan. Tahun lalu PT Gudang Garam memproduksi sebanyak 18 miliar batang SKT dan 52 miliar batang SKM. Dari jumlah tersebut, sebanyak 95% dialokasikan untuk penjualan di dalam negeri. Sementara sisanya, sebanyak 5%, disiapkan untuk kebutuhan ekspor.

Sedangkan penjualan HM Sampoerna hanya tumbuh 0,82% menjadi Rp29,787 triliun dari Rp29,545 triliun. Pertumbuhan kinerja Sampoerna ditopang oleh penjualan produk sigaret kretek tangan (SKT). Kontribusi penjualan SKT sekitar 55%, sementara sisanya ditunjang oleh sigaret kretek mesin dan sigaret putih mesin, masing-masing 37% dan 8%. Total keseluruhan, produsen rokok yang berbasis di Surabaya itu berhasil menjual 60 miliar batang rokok, naik 3 persen dari tahun 2006.

Muhamad Alfatih, analis BNI Securities mengatakan kepada e-Bursa.com, pertumbuhan laba emiten rokok 2007 kurang siginfikan. Salah satu penyebabnya adalah beban cukai yang ditanggung para emiten masih tinggi. Di samping itu, beban lain-lain juga ikut menghambat pertumbuhan laba emiten rokok. "Mungkin dari sisi konsumen atau jumlah pelanggan bertambah namun secara persentase justru terjadi penurunan. Bisa saja laba yang diraih emiten rokok tahun lalu sebagian berasal dari sektor bisnis lain," kata Alfatih.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi 2007, beban bukan usaha BAT Indonesia mencapai Rp17,023 miliar dari sebelumnya hanya Rp253 juta. Begitu juga beban lain-lain Bentoel Investama yang meningkat cukup tinggi dari Rp13,034 miliar menjadi Rp62,235 miliar pada 2007. Sampoerna juga mengalami lonjakan beban lain-lain yang tinggi mencapai Rp232,275 miliar dari sebelumnya penghasilan Rp165 miliar. Gudang Garam membukukan beban pokok penjualan sekitar Rp23,074 triliun atau meningkat dibanding periode sama tahun 2006 yang hanya Rp21,622 triliun.

Menurut Ikhsan Binarto, analis PT Optima Securities, rendahnya pertumbuhan laba emiten rokok bukan hanya disebabkan cukai rokok dan beban lain-lain tapi juga faktor lainnya. "Sejumlah peraturan pemerintah dan kampanye anti rokok yang digalakkan kalangan LSM turut menekan laba emiten. Regulasi pemerintah yang sifatnya menekan disertai daya beli masyarakat yang lemah mengakibatkan laba emiten kurang optimal," papar Ikhsan. Padahal, demikian Ikhsan, pemerintah sendiri terus menggenjot penerimaan pajak dari cukai dalam membiayai APBN. Pemerintah melarang tetapijuga butuh uang.

Ikhsan memperkirakan pendapatan maupun laba emiten rokok pada 2008 masih akan bertumbuh meskipun tidak besar. Ia menilai, regulasi pemerintah di industri rokok serta rendahnya daya beli masyarakat berpotensi membuat pertumbuhan laba emiten tertahan.

Pendapat senada dikemukakan Alfatih. "Prospek pertumbuhan emiten rokok tahun ini masih terbuka namun relative sama dengan periode sebelumnya. Hal ini akibat kenaikan inflasi serta turunnya daya beli masyarakat," ungkapnya.

Kinerja saham industri rokok pada kuartal I/2008 kurang menarik. Hampir semua saham sektoral terkoreksi dalam jumlah bervariasi. Harga saham Bentoel Investama (RMBA) misalnya, terkoreksi paling dalam mencapai 18,86% dari Rp530 menjadi Rp430 per unit. Saham Gudang Garam (GGRM) merosot 9,46% menjadi Rp7.650 per saham pada 31 Maret dibanding awal Januari 2008 di Rp8.450 per unit. Saham Sampoerna (HMSP) loss 9,09% dari Rp14.300 menjadi Rp13.000 per 31 Maret 2008. Sedangkan harga saham BAT Indonesia (BATI) tidak bergerak atau stagnan di level Rp4.800 per unit. (konrad/)
Share:
BERITA TERBARU